Sunday, July 17, 2016

2016-02-27 Ke Pulau Pramuka Bersama Freedive Jakarta

Hari Sabtu, tanggal 27 Februari 2016, pagi-pagi berangkat naik Go Jek... moda transportasi motor online yang baru kali ini saya coba. Tepat sekali ternyata saya menggunakan Go Jek, karena sesampai di Muara Angke menuju Kaliadem banjir sekitar 20 cm. Bahkan abang Go Jek-nya sampai terpaksa memasukkan kakinya ke dalam air keruh yang sangat berbau dikarenakan jalanan macet dan harus berhenti dahulu. Selayaknya saya memberikan tips untuk dedikasinya yang luar biasa.

Senang sekali bepergian dengan teman dari berbagai komunitas. Kali ini beberapa rekan dari komunitas Freedive Jakarta mengajak main air di Pulau Pramuka, ajakan yang cukup mendadak dan tanpa planning jauh-jauh hari.


Bang Muklis ( https://www.instagram.com/nancoachilles/ ),

Bang Ardi Yasa ( https://www.instagram.com/yasamsara/ ),

Neng Widi ciwit ( https://www.instagram.com/witciwit/ ),

Bang Dimas Fauzi Surya @Cozoom ( https://twitter.com/cozoom ),

Bang Laode Muhammad Ridwan ( https://www.instagram.com/laodemridwan/ ),

Bang Hafni Tino,

Bang Fakhril ( https://www.instagram.com/fakhril_/ )

dan saya... berdelapan kita berangkat 27 Februari 2016 dari Pelabuhan Kaliadem pagi sekitar pukul 8 menumpang kapal motor kayu antar pulau.







Beberapa rekan sering bertemu di kolam renang Senayan, beberapa lainnya baru berjumpa.

Rupanya rekan-rekan ini selain freediver, mereka juga scuba diver, bahkan memiliki lisensi scuba diver. Cukup menarik. Jadi benar-benar adventurer, mau menyelam tanpa tabung bisa, mau pakai tabungpun bisa. Luar biasa.

Sesampai di Pulau Pramuka, kita menuju homestay untuk berganti baju dan menaruh barang bawaan.

Homestay yang kita pakai... Kita hanya memakai satu saja dari beberapa ruang yang ada.

Beberapa hari sebelum keberangkatan, ada rasa nyeri di tulang panggul kiri. Entah disebabkan karena salah urat, atau ada syaraf yang terjepit di tulang belakang. Nyeri itu kadang muncul dan kadang hilang. Saya berharap saat trip ini akan sembuh. Dan saya sangat senang bisa kenal dengan teman-teman baru ini yang lebih senior di dunia air asin dibanding saya. Namun apa daya... dari mulai meninggalkan home stay dan berjalan kaki menuju spot pertama, panggul sudah mulai protes. Spot pertama berada di sebelah kiri dermaga. Mendekati dermaga, karena mulai terasa nyeri saya meminta tolong seorang pembawa motor untuk mengantar saya ke batu-batu di sebelah kiri dermaga untuk menyelam. Saya memberinya beberapa ribu rupiah sebagai ucapan terima kasih yang pada awalnya ditolak, namun saya memaksa karena itu merupakan hak dia.

Pada saat menyelam bebas (freedive) panggul tidak terasa sakit. Kemudian saat naik kembali ke bebatuan, teman-teman berinisiatif membawakan perlengkapan saya. Saat itu panggul kiri semakin terasa sakit. Menuju spot kedua berjalan kaki sudah semakin sakit. Karena melewati warung makan di dekat dermaga, beberapa perlengkapan kita titipkan di sana.

Spot kedua kita freedive dari tiang di sebelah kanan dermaga sampai berhenti di tempat yang biasa dipakai untuk naik banana boat. Di spot kedua ini saya melihat flatworm yang mempunyai motif seperti karpet coklat, sangat bagus, sayang saya tidak membawa kamera. Mendekati posisi akhir akan naik ke darat, dengan tinggi air hanya 1 meter maksimal, saya melihat Bang Ode sedang memotret ikan bertanduk yang cukup lucu, warna badannya kuning.

Foto saya di spot kedua hasil bidikan @cozoom ( https://www.instagram.com/p/BCdaqu9CSUc/ ). Thanks.



Anak-anak pulau yang sedang mencari ikan dan bermain di dekat lokasi banana boat. Foto oleh Bang Ardi Yasa ( https://www.instagram.com/p/BCSs3qTordy/ ).



Moment yang sama, diabadikan oleh Bang Ode ( https://www.instagram.com/p/BCZKxFjQB8I/ ). Thanks.



Pulang dari spot kedua, mengambil titipan barang di warung, lalu kembali ke homestay menjadi benar-benar suatu perjuangan. Satu langkah, pinggul terasa nyeri, dan harus berhenti dahulu sambil berdiri dan badan membungkuk serta tangan menumpu ke lutut. Saya meminta teman-teman untuk jalan dahulu dan biarlah saya jalan sendiri tanpa ditunggu. Setiap rombongan yang lewat selalu menoleh ke saya. Ada seorang ibu warga pulau yang kasihan ke saya dan meminta tetangganya yang lewat untuk memboncengkan saya naik motor ke homestay. Ah... sungguh suatu pertolongan ... sesuatu yang tidak terpikirkan oleh saya.







Keesokan harinya kita tidak menyelam lagi. Saya menyewa sepeda untuk menuju ke warung. Lalu naik kereta motor untuk kembali ke dermaga.



Sesampai di Dermaga Kaliadem, perjuangan masih berlanjut, kali ini dengan beban carier di punggung. Perjuangan jalan satu dua langkah lalu istirahat... benar-benar luar biasa. Sampai ke tempat parkiran baru lega, kemudian dilanjutkan naik odong-odong sampai pom bensin. Lalu disambung dengan naik ojek sepeda ke tempat bu Hajah Leha di Pujaseri untuk membayar makanan otak-otak yang waktu itu belum dituliskan di bon makan.

Dari sana saya menggunakan Go Jek lagi untuk pulang ke rumah. Sesampai di rumah, bersama istri saya menuju ke tempat urut untuk memijat seluruh otot dari mulai kaki sampai ke leher. Di bagian sekitar betis kiri ada satu titik yang dipaksa dipijat berulang-ulang. Seperti entah itu otot yang kusut atau darah yang menggumpal. Bagian itu menjadi sakit sekali. Semoga bukan karena pembuluh darah yang pecah atau luka atau cedera otot. Maklum saya awam dalam hal ini.

Besoknya rasa sakit di panggul kiri hilang, namun rasa sakit pindah ke sekitar tulang belakang kiri. Sementara saya mengurangi aktivitas olah raga stretching yang berhubungan dengan punggung, dan mengurangi aktivitas kerja yang mengangkat beban. Sayapun tidak berani pergi lagi ke tempat urut tadi. Rasa sakitpun berpindah-pindah di antara punggung kiri dan pinggul kiri lagi.

Semoga bisa cepat pulih dan bisa bermain air lagi bersama...



Salam

Gunadi TK




No comments:

Post a Comment